Minggu, 27 Februari 2011

E-Book di Indonesia


Buku merupakan salah satu media yang sering digunakan pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Hampir seluruh sekolah di Indonesia, mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi memberikan informasi ilmu pengetahuan berbasiskan buku pelajaran. Namun hal ini mengalami banyak hambatan karena harga buku pelajaran susah dijangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah (Liputan 6.com; 2008). Sehingga pendistribusian materi suatu pelajaran kurang begitu merata ke objek belajar (pelajar).



Di tengah arus globalisasi dan arus informasi, pemerintah mulai menanggapi permasalahan tersebut. Pemerintah mencanangkan programe e-b o o k untuk menanggulangi harga buku pelajaran yang terlampau mahal, e-book merupakan versi electronik buku tercetak traditional yang dapat dibaca menggunakan personal computer atau menggunakan peralatan yang didisain khusus untuk membaca e-books. Peralatan tersebut bisa berupa tablet type, hand held device (PDA) atau eBook reader” (Prita Wulandari: 2006). Berdasarkan definisi ini dapat kita simpulkan bahwa ebook memiliki dua sifat penting, yaitu: pertama, ebook berbentuk digital. Kedua, ebook membutuhkan alat baca khusus.

Fenomena ebook ini memperlihatkan kita kepada perkembangan tehnologi yang cukup mengubah prilaku masyarakat secara umum. Yaitu, perkembangan wujud sebuah buku.

Perkembangan termutahir adalah sebuah buku ditulis dalam bentuk elektronik dalam bentuk Ebook. Jadi tidak perlu dicetak dalam bentuk media cetak lalu diberi cover buku dan kemudian dijilid. Cukup hanya diketik dan didesign dalam media elektronik seperti word prosesor dengan design tulisan dan image dalam bentuk digital kemudian disimpan hasilnya dalam format yang mudah dibaca sebagai sebuah file, umumnya dalam format pdf, maka jadilah sebuah buku elektronik yang kita kenal sebagai ebook.

Ebook adalah terobosan baru dalam dunia tehnologi tentang pola menampilkan wujud sebuah buku. Dengan ebook maka :

a. Kita dapat menyimpan buku dalam bentuk file yang sangat kecil ukurannya.
b. Kita dapat membaca buku melalui computer kita.
c. Karena bentuknya hanya sebuah file, maka kita dapat mempunyai perpustakaan elektronik dalam bentuk kumpulan buku dalam computer kita.

Dengan adanya ebook ini, pelajar yang membutuhkan buku tersebut cukup pergi ke internet dan mengunduh buku tersebut sehingga biaya yang dikeluarkan lebih murah daripada membeli buku. Hal ini ditunjang oleh adanya program pemerintah yang lain yaitu internet masuk sekolah baik sekolah perkotaan maupun pedesaan. Selain itu mobilitas pelajar sekolah usia anak-anak sampai remaja untuk berkunjung ke internet semakin besar.



http://www.managementfile.com/journal.php?sub=journal&awal=30&page=ict&id=293

http://blog.persimpangan.com/blog/2007/08/05/pemanfaatan-e-book-di-indonesia/



Ada beberapa alasan tentang penerapan ebook dalam dunia pendidikan. Pertama, buku elektronik merupakan konsekuensi langsung dari kemajuan era internet. Segala jenis informasi tersedia di dunia maya sehingga sumber informasi konvensional pun secara perlahan-lahan mulai memiliki versi digital, bahkan benar-benar beralih ke digital. Contohnya, salah satu web milik pustekom yang menyediakan buku-buku pelajaran elektronik yang dapat di unduh secara gratis.



Alasan kedua adalah buku elektronik mudah diperbaharui. Artinya, jika ada bacaan versi terbaru, tinggal diunduh saja. Yang lama, bisa disimpan dalam hardisk. Selain itu, buku elektronik ini juga gampang diakses kapan saja dan di mana saja. Jadi, Anda tidak perlu khawatir jika bahan bacaan Anda ketinggalan di rumah karena internet memudahkan Anda mengakses buku elektronik tersebut kembali.



Ketiga, nilai portabilitasnya terhitung tinggi. Bayangkan, sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang sangat tebal itu tidak efisien ditenteng ke mana-mana oleh guru atau guru bahasa Indonesia. Sebagai perbandingan, penulis memiliki buku elektronik KBBI yang besarnya kurang dari 20 megabyte. Fitur pada aplikasi pembacanya pun, yakni Adobe Reader, memudahkan penulis untuk mencari arti satu kata tanpa perlu membolak-balikkan halaman sebagaimana lazimnya KBBI versi cetak. Dengan flashdisk berukuran 4 GB saja, ratusan buku, kamus, referensi, juga buku elektronik lainnya dapat dengan mudah disimpan.



Murah. Itu alasan keempat mengapa buku elektronik perlu dimasyarakatkan di dunia pendidikan. Selama ini, salah satu masalah klise yang dihadapi oleh instansi pendidikan adalah mahalnya buku-buku. Tidak mengherankan jika koleksi buku terbaru di perpustakaan mereka pun sangat minim. Justru yang tersedia adalah buku-buku lama dengan kondisi fisik yang kurang menarik untuk dibaca. Tak perlu menyalahkan para pelajar jika lebih betah bermain-main daripada berkunjung ke perpustakaan pada saat jam istirahat. Nah, ketersediaan buku elektronik ini bisa memecah kebekuan minat baca para pelajar Indonesia.



Hemat kertas. Dengan buku elektronik, kegiatan administrasi yang boros kertas bisa dikurangi. Selain itu, bagi guru dan siswa di lingkungan akademik bisa menggunakan buku elektronik ini untuk berbagi ilmu. Tugas siswa berupa paper alias jurnal pun dapat dikumpulkan dalam bentuk elektronik. Tidak bisa dipungkiri, dalam beberapa hal, keberadaan buku cetak memang masih dibutuhkan. Namun, adanya buku elektronik ini, penggunan buku cetak bisa diminimalisasi.



Satu lagi alasan terakhir dan paling krusial adalah buku elektronik bisa menjadi solusi mengurangi dampak pemanasan global. Mengapa? Kita tahu bahwa buku yang biasa kita gunakan terbuat dari bubur kertas yang dihasilkan dari pengolahan batang pohon. Pohon-pohon tersebut diperoleh dengan menebang hutan. Hutan menjadi gundul dan terkadang diselingi dengan kebakaran, baik disengaja ataupun tidak. Asap yang timbul mengandung karbondioksida dan karbonmonoksida yang menjadi cikal bakal melubangnya lapisan ozon. Terjadilah pemanasan global yang meresahkan warga dunia belakangan ini. Tentu saja dampaknya akan berbeda jika kita perlahan-lahan mengurangi penggunaan buku dan beralih ke buku elektronik. Hutan kita tidak banyak ditebang, ketersediaan oksigen menjadi lebih banyak, dampak pemanasan global bisa berkurang, dan bumi pun lebih sehat.



Penggunakan buku elektronik ini juga sangat mudah, anda hanya memerlukan seperangkat komputer, PDA, notebook, netbook, atau cukup telepon seluler yang memiliki fitur reader. Seiring dengan berkembangnya teknologi, harga perangkat-perangkat tersebut cukup friendly sekalipun bagi masyarakat kalangan bawah.



PENERAPAN EBOOK

Pada tanggal 20 Agustus 2008, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) meluncurkan buku elekronik (e-book), sesuai dengan Kebijakan Depdiknas merupakan tindak lanjut PERMENDIKNAS No. 2/ 2008 tentang Perbukuan yakni : Pemerintah Pusat dan Daerah dapat membeli hak cipta buku dari pemiliknya. Semua orang berhak mencetak, memfotokopi, mengalihmediakan dan atau memperdagangkan buku yang hak ciptanya telah dibeli pemerintah. Depdiknas telah membeli 289 hak cipta buku-buku pelajaran berbagai jenjang pendidikan serta menyediakan 2.400 judul buku gratis ke sekolah dan mengalih mediakan kedalam bentuk digital serta menyebarluaskan melalui internet. Pemilihan e-book sebagai bahan ajar telah mempertimbangkan keunggulannya antara lain: Ukuran fisiknya kecil namun mampu menyimpan banyak buku dalam satu satu harddisk, CD-ROM, DVD, dan CD; e-book mudah dibawa da, tidak mudah lapuk dan format digital tersebut tidak mudah rusak serta mudah diduplikasi. Selanjutnya e-book yang berisi buku teks tersebut dapat didownload melalui situs beralamat www.bse-depdiknas.go.id



KENDALA PENERAPAN EBOOK

Penggunaan e-book sebagai media bahan ajar merupakan sebuah langkah maju. Namun pelaksanaan kebijakan tersebut terkesan ’dipaksakan’ untuk saat ini. Kenapa ? Karena pemerintah seolah menutup mata terhadap realitas pendidikan dilapangan. Indonesia bukan hanya Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya yang dimanjakan oleh berbagai fasilitas. Akan tetapi Indonesia terbentang antara Sabang sampai Merauke yang kondisi geografis; kondisi sarana pendidikannya berbeda serta kondisi guru dan para siswanya yang berkemampuan beragam.

Sedangkan e-book merupakan media yang padat teknologi. Adapun tantangan yang dihadapi jika penggunaan e-book dipaksakan sebagai bahan ajar untuk saat ini adalah :

1. Aspek Sumber daya Manusia ( MAN ) : Tingkat melek internet para guru di Indonesia yang hanya mencapai 10 % - 15 % ( Media Indonesia, 27 Juli 2008 ). Hal tersebut akan menghambat implementasi kebijakan e-book. Apalagi para guru telah terbiasa menggunakan pedagogik konvensional dengan mengesampingkan alat bantu pembelajaran. Sedangkan siswa yang terbiasa dengan pengajaran konvensional akan tumbuh budaya ‘Yess Man’. Karena guru adalah sumber pembelajaran yang tidak terbantahkan. Padahal guru dan murid dituntut bersikap kritis, kreatif dan inovatif dalam mencari sumber-sumber pembelajaran di era digital saat ini.

2. Aspek Sarana dan Prasarana ( MACHINE ): Walaupun kurikulum pendidikan Indonesia sama antara daerah satu dengan lainnya. Namun yang membedakannya adalah fasilitas penunjang pendidikan. Implementasi kebijakan e-book tidak akan menemui kendala berarti diwilayah Indonesia Barat karena berbagai fasilitas seperti:: Jaringan internet, hardware, software dan brainware nya memadai. Hal tersebut terjadi sebaliknya di wilayah Indonesia Timur dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Idealnya penggunaan e-book sebagai bahan ajar harus memperhitungkan kelengkapan antara lain: ketersediaan laboratorium komputer/ multi media; jaringan internet; jaringan LAN; LCD/ projektor serta rasio antara komputer dengan siswa berbanding 1: 1. Selain itu infrastruktur Jardiknas belum menjangkau seluruh sekolah berbagai jenjang di Indonesia serta penggunaanya rentan mengalami ’Bottle neck’ (gangguan jaringan akibat pengguna mengakses secara serentak pada suatu situs).

3. Aspek Metode Distibusinya ( METHOD ) : Penggunaan E-book di klaim pemerintah mampu menurunkan ’biaya tinggi’ pendidikan. Karena mampu memangkas rantai distribusi. Jadi pemerintah yang telah membeli hak cipta akan mengalihmediakan buku tersebut dan meng-upload-nya di situs Jardiknas. Sedangkan guru dan siswa yang membutuhkan buku tersebut tinggal mengunduhnya dari situs tersebut. Sekilas hal tersebut praktis dan hemat biaya. Namun jika dicermati maka biaya yang akan dikeluarkan lebih besar. Anggap saja seorang siswa ingin mendownload buku maka ia harus mengeluarkan ongkos untuk sewa Warnet Rp. 6.000,-; ongkos transportasi dalam kota pp Rp. 4.000,-; Beli Compact Disk untuk menyimpan Rp. 5.000,- dan ongkos memprintkan perlembarnya Rp. 500,-. Dari item-item pengeluaran tersebut maka anda dapat mengkalkulasikannya sendiri.

Kamis, 10 Februari 2011

TIPS BEROLAHRAGA AGAR TIDAK MEMBAHAYAKAN JANTUNG

Beberapa kasus orang meninggal usai melakukan olahraga berat seperti sepakbola, tenis, badminton membuat sebagian orang takut untuk melakukan olahraga tersebut. Permasalahan bukan pada cabang olahraganya, melainkan karena terlalu memaksa berolahraga pada kondisi tubuh yang tidak siap.

Kasus publik figur yang meninggal usai melakukan olahraga, seperti Basuki yang meninggal setelah terjatuh saat bermain futsal, Benyamin S meninggal setelah koma beberapa hari usai main sepakbola, serta yang terbaru Adjie Massaid yang meninggal usia bermain futsal, membuat tanda tanya tersendiri apakah olahraga futsal atau sepakbola dapat menyebabkan kematian?

“Yang harus diingat bukan karena cabang olahraganya, tapi memang olahraga prestasi atau fun dapat mengandung bahaya yang fatal untuk kesehatan bila dilakukan saat tubuh tidak siap secara fisik dan mental,” jelas dr Michael Triangto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga di RS Mitra Kemayoran.
Menurut dr Michael, semua jenis olahraga mengandung risiko untuk kesehatan, yang paling sering misalnya cedera, putus tendon atau robekan di daerah otot, bahkan yang fatal dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung. Namun karena kebanyakan tidak menyebabkan kematian, hal tersebut tidak terlalu dihebohkan.

“Tapi bukan berarti saya melarang orang untuk berolahraga atau menakut-nakuti. Olahraga tetap dibutuhkan tubuh, asalkan orang itu siap secara fisik dan mental, serta tidak memaksakan olahraga melebihi 100 persen tubuhnya,” lanjut dr Michael yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kedokteran Olahraga, Litbang PB PBSI.

dr Michael mengatakan, kebanyakan orang yang mengalami cedera atau masalah kesehatan saat melakukan olahraga adalah karena tubuhnya tidak siap secara fisik dan mental. Apalagi bila sebelumnya orang tersebut sudah memiliki masalah kesehatan, seperti hipertensi atau kolesterol tinggi, tapi tidak pernah diperiksakan melalui check up.

Selain itu, orang awam yang tidak terlatih biasanya sering memaksakan diri melakukan olahraga kompetitif atau olahraga berat melampaui 100 persen kemampuan tubuhnya.

“Memaksakan diri berolahraga berat dengan melebihi 100 persen kemampuan tubuh dapat membahayakan organ-organ di tubuh, termasuk jantung. Untuk itu, perlu juga diperhatikan olahraga apa dan seberapa kemampuan tubuh kita,” jelas dr Michael.

Menurut dr Michael, berapapun usia seseorang bila ia memiliki kesiapan secara fisik dan mental, maka tidak bermasalah saat melakukan olahraga berat sekalipun. Tapi bila Anda memaksakan diri melakukan olahraga berat saat tubuh tidak siap, secara fisik mungkin bisa menerimanya, tetapi tidak dengan jantung Anda.

Agar tidak terjadi masalah kesehatan saat melakukan olahraga, dr Michael memberikan beberapa tips sehat dan aman, yaitu:

1. Cek denyut nadi sebelum berolahraga
Sebelum olahraga sebaiknya cek tekanan darah (tensi). Tapi bagi orang awam bisa dengan mengecek denyut nadi di pergelangan tangan atau di leher. Denyut nadi yang normal adalah 60-90 denyut per menit.

Bila denyut nadi di atas atau di bawah jumlah tersebut, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk berolahraga, apalagi olahraga berat. Denyut nadi di bawah atau di atas normal menandakan bahwa tubuh Anda dalam kondisi yang tidak prima.

2. Tidak pusing saat bergerak dari jongkok ke berdiri
Bila Anda merasa pusing saat ganti posisi tubuh saat jongkok ke berdiri, artinya jantung tidak mampu memompa darah secara maksimal. Dalam kondisi ini juga jangan paksakan diri untuk berolahraga berat.

3. Jangan paksakan diri saat pertama kali olahraga
“Perhatikan kemampuan tubuh, jangan lakukan olahraga melebihi 100 persen kemampuan tubuh. Jantung harus dilatih secara teratur dan berkesinambungan, setidaknya seminggu 3 kali. Bila Anda sudah lama tidak berolahraga, maka jangan memaksakan diri untuk olahraga kompetitif seperti sepakbola yang harus kejar-kejaran skor. Lakukan secara bertahap sambil dilihat keluhannya,” jelas dr Michael.
 
blogger template by arcane palette